Contoh Essay
Kerjasama Militer Amerika Serikat dengan Vietnam Dalam Mengelola Ancaman Keamanan Laut Cina Selatan Tahun 2011
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mata Kuliah Studi Kawsan Amerika
Oleh : Samuel F Pardosi - 1370750058
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Hubungan Internasional
Universitas Kristen Indonesia
April 2016
Jakarta
Pendahuluan
Laut Cina Selatan (LCS) merupakan wilayah di kawasan Asia
Pasifik yang mengalami berbagai kasus perbatasan maritim. Kasus-kasus tersebut
terjadi setidaknya sejak awal abad 20, ketika klaim teritorial mulai
diperebutkan oleh Republik Rakyat Tiongkok ( RRT) dan dua
kekuatan kolonial , yaitu : Jepang dan
Perancis di perairan ini. Setelah Perang Dunia II, muncul juga Persaingan klaim-klaim baru di antara
negara-negara yang baru memerdekakan diri di perairan LCS. Salah satu negara
yang terlibat dalam sengketa klaim teritorial di perairan tersebut adalah Vietnam. (Baylis, The Globalization of
world Politics: An Introduction to International Relations, 2005)
Berdasarkan letak geografisnya, Vietnam merupakan salah satu
negara Indocina yang mempunyai garis pantai sepanjang 3,444 kilometer, yang
berbatasan langsung dengan LCS. Pada lepas pantai Vietnam, terdapat kawasan
perairan LCS dan dua kepulauan yang masih menjadi sengketa, yaitu Kepulauan
Spratly dan Kepulauan Paracel. Di Kepulauan Spratly, Vietnam memiliki sengketa
dengan RRT, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Brunei. Sedangkan, di Kepulauan
Paracel, Vietnam memiliki sengketa dengan RRT dan Taiwan. Sengketa perairan di
LCS serta sengketa di Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel mengakibatkan
tensi keamanan antara Vietnam dengan
negara yang mengklaim kedaulatannya atas perairan dan kepulauan tersebut.
Keberadaan negara-negara yang mengklaim wilayah kedaulatan
Vietnam di LCS merupakan sebuah ancaman eksternal bagi Vietnam. Dalam
menghadapi ancaman tersebut, Vietnam melakukan diplomasi dan berbagai kerjasama
pertahanan. National Defense White Paper mengatakan Bahwa kerjasama
pertahanan merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk mencapai
tujuan pertahanan Vietnam. Oleh karena itu, Vietnam secara aktif berpartisipasi
dalam kerjasama pertahanan dan keamanan diregional dan internasional. Pada
tingkat bilateral, Vietnam mempromosikan kerjasama militer dengan beberapa negara. Salah satu kerjasama militer
yang dilakukan oleh Vietnam adalah dengan Amerika Serikat.
Sebenarnya, Vietnam dengan AS memiliki sejarah konflik pada
masa Perang Dingin, khususnya pada periode (1954-1975). Pertikaian tersebut
berakhir dengan kemenangan rezim sosialis Vietnam Utara, yang kemudian
menyatukan Vietnam Utara dengan Selatan di bawah pemerintahan sosialis. Sejak
saat itu, hubungan diplomatik Vietnam dengan AS tidak terjalin selama lebih
dari 15 tahun, karena AS memberlakukan sanksi ekonomi dan memutuskan hubungan
diplomatik dengan Vietnam.
Membaiknya hubungan bilateral kedua negara diawali pada
tahun 1987. Ini dilakukan dengan melalui sebuah kerjasama yang terkait dengan
isu POW/MIA (prisoner of war / missing
in action). Pada tahun 1991, kedua
negara memutuskan untuk memperbaiki hubungan diplomatik secara resmi. Sejak
normalisasi hubungan, berbagai kerjasama telah dilakukan dalam berbagai aspek,
salah satunya dalam aspek militer.
Kerjasama militer Vietnam dengan AS dilakukan dalam beberapa
tahapan. Tahapan awal yaitu pada periode 1996-1999 yang berfokus pada tiga
jenis kerjasama militer, yaitu: konferensi multilateral dan seminar yang
diselenggarakan oleh Komando Pasifik AS; kunjungan militer dan kerjasama dalam
bidang pencarian dan penyelamatan korban bencana; dan yang terakhir mengenai
keamanan lingkungan. Tahapan berikutnya dilakukan pada periode tahun 2000-2004,
dimana AS mendorong hubungan kerjasama militer ke arah yang lebih strategis,
seperti upaya AS untuk memodernisasi militer Vietnam dan upaya untuk melakukan
latihan pertahanan bersama.
Meskipun kemitraan pertahanan ini menguntungkan Vietnam,
namun terdapat resiko yang perlu diwaspadai. Kemitraan tersebut dapat
menciptakan 4 dampak negatif terhadap hubungan luar negerinya dengan negara
lain. Khsusunya, ini dikhawatirkan akan mengundang kecurigaan dan menciptakan insecurity bagi RRT dan negara-negara
Asia Tenggara lainnya. Kehadiran AS dalam skema pertahanan Vietnam akan
mempengaruhi kalkulasi perimbangan kekuatan di LCS, yang ditakutkan dapat
meningkatkan tensi keamanan yang ada. (Heijmans, Searching for Peace in
Asia Pacific: An Overview of Conflict Prevention and Peacebuilding Activities
, 2004)
Kekhawatiran di atas menjadi kenyataan ketika RRT merespon negatif peningkatan hubungan
kerjasama militer Vietnam dengan AS yang
dilakukan pada tahun 2010. Setelah kunjungan Hillary Clinton ke Hanoi pada
tahun 2010, RRT menyatakan akan menggunakan kekatan militer atau sound of cannon untuk menyelesaikan
sengketa territorial di perairan LCS. Selain pernyataan tersebut, RRT meningkatkan
intensitas patroli di kawasan tersebut yang mengakibatkan 20 kali penangkapan
nelayan Vietnam oleh Angkatan laut RRT di LCS pada tahun 2010. Hal ini
merupakan suatu resiko dan dampak dari
hubungan kerjasama militer Vietnam dengan AS. Apabila tidak dikelola dengan
tepat, kemitraan Vietnam dengan AS justru dapat memprovokasi perang terbuka di
LCS.
Namun, terlepas dari kekhawatiran terhadap resiko strategis
tersebut, Vietnam tetap melanjutkan kemitraan dalam kerjasama militer dengan AS
pada tahun 2011. Salah satu wujudnya berupa pelaksanaan latihan militer
gabungan Vietnam dan AS di kawasan LCS pada bulan Juli 2011. Pelaksanaan
latihan militer gabungan ini dengan
segera mendapat respon dari RRT. Ini tertulis dalam media terbitan pemerintah
RRT pada tahun 2011, dimana dinyatakan bahwa latihan militer Vietnam dengan AS
dianggap sebagai unjuk kekuatan militer untuk menantang Beijing.
Dihadapkan pada pernyataan yang provokatif tersebut, Vietnam
tetap mempertahankan hubungan pertahanannya dengan AS dengan suatu langkah
penegasan dalam kemitraan. Ini dilakukan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani antara
Vietnam dan AS, pada bulan September 2011. Dengan pelaksanaan MoU 2011 , kedua
negara menegaskan kembali komitmen untuk implementasi penuh dalam melanjutkan Kesepakatan
Politik, Keamanan, dan Dialog Kebijakan Pertahanan.
Langakah penegasan kemitraan Vietnam denagn AS dalam MoU
2011 tersebut merupakan focus dalam penulisan essay ini. Apabila Vietnam
mempertaruhkan stabilitas keamanan LCS demi
kemitraan pertahanannya dengan AS, ini diduga dikarenakan adanya peluang
pencapaian kepentingan yang lebih besar bagi Vietnam.
Penulisan ini ditujukan untuk
mengetahui bentuk-bentuk ancaman di LCS terhadap kedaulatan dan keamanan
wilayah Vietnam, untuk mengetahui kesepakatan-lesepakatan strategis serta
bentuk-bentuk kerjasama militer antara Vietnam dengan AS pada tahun 2011 dalam
mengelola ancaman keamanan Vietnam di LCS serta untuk mengungkap faKtor
pendorong Vietnam dalam meningkatkan kerjasama militer dengan AS melalui MoU
2011.
Melalui
kasus diatas, penulis beranggapan bahwa topik ini adalah salah satu isu yang
menarik dan penting untuk dibahas. Selain itu, kerjasama militer yang dilakukan
oleh Vietnam dengan AS merupakan tindakan
yang mengundang reaksi negative dari negara lain, dan bisa saja dengan kerjasama ini hubungan antara Vietnam dengan
negara-negara dikawasan tersebut akan memanas.
Penulis
melihat bahwa, kerjasama yang dilakukan Vietnam dengan AS adalah salah satu
sikap yang wajar untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya.
Negara yang merasa terancam akan kehilangan wilayah kedaulatannya akan
melakukan berbagai hal untuk tetap mempertahankan wilayah demi kedaulatan
negaranya, seperti: menjalin hubungan dan kerjasama internasional dalam hal kemiliteran serta mempererat hubungan
diplomatik dengan negara-negara tertentu. (Hermawan, Transformasi dalam
Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi, 2007)
Kerjasama Militer Vietnam dengan
Amerika Serikat Terkait Dengan Ancaman Keamanan Laut Cina Selatan
Kerjasama antara Vietnam dengan AS diawali dengan membaiknya
hubungan bilateral kedua negara pada tahun 1987, dengan adanya sebuah kerjasama
yang terkait dengan isu POW/MIA. Kerjasama ini berupa pencarian pasukan AS yang
hilang pada Perang Vietnam. Untuk kerjasama ini, Jenderal Vessey dan Presiden
Reagan melakukan suatu kunjungan khusus ke Vietnam.
Pada tahun 1995, normalisasi hubungan diplomatik secara
resmi terjalin di antara Vietnam dengan AS. Kedua negara mulai menggagas
beragam kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan, konsuler, dan normalisasi
diplomatik.Namun, pemerintah Vietnam menunjukan keengganan untuk melakukan
hubungan kerjasama dengan AS di dalam sector pertahanan. Pada tahun 1996 dan
1997, AS menawarkan Kementrian Pertahanan
Vietnam berbagai titik awal untuk kerjasama militer, dan mengemukakan
serangkaian kegiatan dalam kerjasama pertahanan. Ini dilakukan dengan tetap
memprioritaskan masalah POW/MIA. Prosesnya dimulai pada bulan Juli 1996, ketika
The U.S. National Security Advisor,
Anthony Lake, mengunjungi Vietnam
untuk mulai membentuk hubungan militer antara Vietnam dan AS. (Jemadu,
Politik Global dalam Teori & Praktik, 2008)
Pada bulan Oktober di
tahun yang sama, asisten Menteri Pertahanan, Kurt Campbell, memimpin delegasi
yang terdiri dari Departemen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, Dewan Keamanan
Nasional, dan Komando Pasifik (USPACOM), pada kunjungannya ke Vietnam. Campbell
memulai diskusi dengan Menteri Pertahanan Vietnam, Letjen Nguyen Thoi Bung
mengenai hal-hal di luar POW/MIA. Campbell mengusulkan beberapa program, yaitu:
kunjungan beberapa kolonel senior
Vietnam ke AS, kunjungan Komandan Angkatan Laut AS ke Vietnam, kunjungan
Universitas Pertahanan National AS dan The
Air Force War College. Campbell juga mengusulkan pertukaran pelajar,
latihan kemanusiaan secara multilateral, latihan bantuan bencana, dan
pertukaran pejabat peradilan militer.
Tawaran dan kunjungan-kunjungan yang dilakukan oleh AS ke
Vietnam direspon oleh Vietnam pada awal 1997 dengan suatu Keputusan Komite
Sentral ke-9 dari Partai Komunis Vietnam. Partai Komunis Vietnam mengungkapkan
ranjau darat, pencarian dan penyelamatan, bantuan bencana alam, penelitian
medis, dan dialog tentang isu-isu keamanan regional. Kunjungan Cohen ke Hanoi
juga menghasilkan kesepakatan dengan Menteri Pertahanan Vietnam, Pham Van Tra.
Vietnam menyetujui kunjungan kapal-kapal militer AS ke Vietnam. Pham Van Tra
menyatakan bahwa kunjungan kapal AS akan menjadi aspek positif dari rencana
bertahap dalam memperluas keterlibatan militer. Pada tahun yang sama, Presiden
William Clinton mengunjungi Vietnam yang merupakan perjalanan pertama Presiden
AS ke Vietnam sejak Richard Nixon pergi ke Saigon ( Ho Chi Minh City) pada
tahun. (Oliver, Diplomacy of Isolation;
United States Unilateral Sanctions Policy and Vietnam 1975-1995, 2002)
Dari tahun 2000 hingga 2004, Kementerian Pertahanan Vietnam
bekerja keras untuk memastikan bahwa komitmennya dalam peningkatan keterlibatan
militer AS bukan sebagai tujuan kebijakan luar negeri secara keseluruhan.
Vietnam tidak ingin tergantung secara militer pada kerjasama dengan satu negara
saja. Oleh karena itu, Kementrian Pertahanan Vietnam akan memastikan terlebih
Dahulu kerjasama pertahanan ini tidak akan memiliki dampak strategis pada
hubungan bilateral Vietnam dengan negara lainnya. Yaitu terhadap Hubungan
bilateral dengan RRT dan hubungan multilateral dengan negara tetangga di Asia
Tenggara yang tergabung dalam the Association of South east Asian Nation
(ASEAN).
Pada tahun 2005 sampai 2010, hubungan pertahanan Vietnam
dengan AS mulai berkembang secara strategis. Ini diawali dengan pertemuan
antara Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld dan Perdana Menteri Vietnam, Phan
Van Khai di Washington DC pada pertengahan 2005. Pada tahun yang sama, Vietnam
menandatangani perjanjian akhir yang menjadi
Syarat untuk memulai Pendidikan Militer dan Pelatihan dalam
International Millitary Education and Training (IMET). Ini ditujukan untuk
menerima pelatihan bahasa Inggris bagi militer Vietnam di AS. Tahun 2005
menjadi awal dilaksanannya program pendidikan dan pelatihan militer dalam
kerjasama militer Vietnam dengan AS. Berikut ini merupakan grafik pendidikan
dan pelatihan militer Vietnam dalam IMET sejak tahun 2005-2008.
Dalam pengembangan strategis selanjutnya, Vietnam dan AS
merancang rencana untuk mendatangkan kapal-kapal Angkatan Laut AS di perairan
Vietnam. Pada tahun 2007 dan 2008, kapal angkatan Laut AS dan kapal kemanusiaan
Angkatan Laut AS memasuki perairan Vietnam untuk suatu kunjungan. Selain
itu, Vietnam juga mengIkuti pelatihan
penjaga perdamaian, latihan angkatan laut gabungan seperti Passing Exercise (PASSEX), mendiskusikan tentang Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ACSA),
melakukan kerjasama hidrografi, dan studi bersama mengenai dampak strategis
dari pergeseran meteorologi dan perubahan permukaan laut. Ini dilanjutkan
dengan Penandatanganan International Traffic
in Arms Regulations (ITAR) pada tahun 2007, yang merupakan upaya pembatasan
dalam perdagangan senjata-senjata militer yang tidak mematikan atau non-lethal
weapon. Pada tahun 2008, pemerintahan Bush Melalui Kementerian Pertahanan AS
berupaya membawa kerjasama dengan Vietnam ke tingkat yang lebih tingg. Upaya AS
tersebut mendapatkan respon positif dari Vietnam.Vietnam mulai membuka diri
dalam diskusi yang mengarah pada isu-isu pertahanan regional, serta modernisasi
pertahanan Vietnam. Pada akhirnya, di tahun 2009, AS memberikan Pendanaan
militer asing (FMF) untuk Mendorong modernisasi Pertahanan Vietnam Sebesar $
500.000. Mengenai penjualan militer asing (FMS), menurut Departemen Luar Negeri
AS, Vietnam mengajukan surat permintaan untuk suku cadang helikopter dan
laboratorium Bahasa Inggris.
Pendanaan militer asing (FMF) dilanjutkan pada tahun 2010
sebesar $ 1.350.000. Mulai tahun 2010, kedua negara mempercepat proses
kerjasama dengan membentuk kemitraan di beberapa bidang. AS mengidentifikasi
Vietnam sebagai salah satu mitra baru sebagai bagian dari Upaya rebalancing AS di kawasan Asia-Pasifik.
Pada tanggal 17 Agustus 2010, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Asia Selatan
dan Asia Tenggara, Robert Scher, bertemu Wakil Menteri Pertahanan Vietnam,
Nguyen Chi Vinh, untuk melakukan dialog pertahanan formal yang pertama. Pada
tahun ini, kedua negara berupaya untuk merespon RRT yang meningkatkan klaimnya
keperairan dan pulau-pulau di LCS, serta terus bekerja sama pada isu-isu
kebebasan dan keamanan maritime.
Kerjasama Vietnam dengan AS dalam mengelola ancaman keamanan
LCS terus ditingkatkan pada tahun 2011, yang akan dipaparkan pada bagian
selanjutnya. Kerjasama militer Vietnam dengan AS selama tahun 2011 bertujuan
untuk meningkatkan hubungan ke dua negara ke dalam tingkat yang lebih
strategis. Yaitu dengan memfokuskan pengembangan kemampuan militer kedua negara
dan memperluas batas-batas keterlibatan militer yang ditujukan untuk memenuhi
tantangan keamanan.
Pada pertengahan 2011, Vietnam mengirimkan perwira angkatan
darat pertama ke U.S. National War College.
Senior Kolonel Hà thanh Chung, seorang kepala departemen di The Vietnamese Military Science Academy,
yang bergabung kebijakan Rebalancing merupakan kebijakan menyeimbangkan kembali
kekuatan strategis AS pada pemerintahan Presiden Obama di kawasan Asia Pasifik,
khususnya untuk bidang ekonomi. Selain itu, Vietnam dan AS melakukan kerjasama
dalam hal perbaikan kapal noncombatant AS.
Yaitu perbaikan kapal kargo dan amunisi, Military
Sealift Command (MSC) yang dinahkodai oleh Richard E. Byrd, yang
mengunjungi pelabuhan Cam Ranh pada bulan Agustus 2011. Ini merupakan kunjungan
yang pertama oleh sebuah kapal Angkatan Laut AS ke pelabuhan Cam Ranh selama
lebih dari tiga dekade. Byrd menghabiskan tujuh hari di Cam Ranh untuk
perbaikan dan pemeliharaan rutin, yaitu pembersihan lambung kapal, pembersihan
baling-baling kapal, perbaikan pipa kapal, perbaikan sistem pendingin salt
water cooling yang mendinginkan mesin kapal dan mengaktifkan AC (air conditioning). Pada bulan Juni 2011,
Asisten Menteri Luar Negeri Untuk Urusan Politikdan militer AS, Andrew J.
Shapiro, bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam, Pham Binh Minh, untuk
berbagi pandangan mengenai hubungan bilateral dan masalah keamanan regional.
Yaitu membahas langkah-langkah untuk lebih Memperkuat kerjasaman
nonproliferasi, kontraterorisme, kontra
narkotika, POW-MIA, penanganan dioxin, isu-isu agen orange, bantuan kemanusiaan
dan bantuan bencana, serta aspek-aspek lain dalam kerjasama pertahanan dan
keamanan. (Z B. F., 2010)
Kedua belah pihak juga berkomitmen untuk bekerja menuju
"kemitraan strategis" antara Vietnam dengan AS. Hubungan kemitraan
strategis ini khususnya ditujukan untuk menanggapi tensi keamanan di LCS. Tensi
keamanan di LCS semakin meningkat pada pertengahan tahun 2011, terutama antara
Vietnam dan RRT. Ini berupa pelanggaran yang dilakukan RRT di kawasan perairan
yang merupakan bagian dari kedaulatan Vietnam, yaitu tindakan pemotongan kabel
eksplorasi yang digunakan oleh perusahaan minyak Vietnam (PetroVietnam), pada 9 Juni 2011.
Tindakan ini direspon oleh pihak Vietnam melalui pernyataan resmi. Juru bicara
Kementerian Luar Negeri Vietnam, Nguyen Phuong Nga mengatakan bahwa Vietnam
menentang tegas tindakan RRT yang menghancurkan, menghalangi kegiatan
eksplorasi dan survei pada landas kontinen dan zona ekonomi eksklusif Vietnam
(Nguyen Dikutip Hoang, 2011).
Penulis
melihat bahwa setiap negara yang merasa terancam akan kehilangan wilayah
kedaulatannya akan melakukan berbagai cara untuk tetap menjaga dan menegakkan
keutuhan wilayahnya. Seperti yang telah dilakukan oleh Vietnam dengan Amerika
Serikat melalui kerjasama bilateral dalam berbagai bidang seperti ekonomi,
budaya, pendidikan dan politik, khususnya kerjasama dalam bidang militer
menjadi dasar utama Vietnam untuk tetap bisa menjaga keamanan dan keutuhan
wilayahnya. Selain itu, penulis juga melihat bahwa sejarah perang antara
Vietnam dan Amerika Serikat tidak menjadi masalah utama kedua negara untuk
tetap melakukan kerjasama internasional.
Kesimpulan
Sebagai penutup, penulis melihat bahwa Kerjasama militer
Vietnam dengan AS dalam mengelola
ancaman keamanan di Laut Cina Selatan pada tahun 2011 melalui penanda tanganan
MoU bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas militer Vietnam, serta
menghadirkan kekuatan AS di LCS. Tindakan Vietnam ini beresiko meningkatkan
tensi konflik LCS, mengingat bahwa RRT selalu memprotes kedekatan militer
Vietnam dengan AS. Pada tahun 2011, sebelum penandatanganan MoU, Vietnam dan AS
melakukan latihan militer bersama yang dimana dinyatakan bahwa latihan ini
dianggap sebagai unjuk kekuatan militer untuk menantang RRT. Selain itu, dengan
kedatanganan Hillary Clinton ke Vietnam,
RRT menyatakan akan menggunakan kekuatan militer atau sound of cannon untuk menyelesaikan sengketa territorial di
perairan LCS.
Dengan adanya resiko di atas, penulis meneliti motivasi
Vietnam melakukan MoU dengan AS. Analisis dilakukan dengan logika Neo Realisme,
serta kerangka pemikiran keamanan nasional, aliansi dan balance of power. Setelah melakukan serangkaian analisis, penulis
menyimpulkan bahwa terdapat setidaknya 3 alasan utama Vietnam melakukan MoU
dengan AS.
Pertama, Angkatan Laut AS diharapkan dapat beroperasi di
kawasan LCS dalam kegiatan kerjasama dan pelatihan dengan Vietnam, melalui
USPACOM dan USCG untuk mengimbangi pengoprasian angkatan laut RRT di kawasan
tersebut. Sehingga, perimbangan kekuatan di perairan LCS ini akan menghasilkan
ekuilibrium, yaitu upaya RRT Untuk memperoleh posisi hegemoni di LCS akan bisa
digagalkan oleh kekuatan Vietnam dengan AS.
Kedua, untuk mencegah tindakan patrol RRT yang menghalangi
kegiatan Eksplorasi minyak, serta survei pada landas kontinen dan zona ekonomi
eksklusif Vietnam. Sebelum MoU, RRT
telah melakukan pemotongan kabel eksplorasi yang dipasang oleh kapal perusahaan
minyak Vietnam (PetroVietnam) dan menuntut Vietnam menghentikan kegiatan
eksplorasi dikawasan tersebut.
Ketiga, terdapatnya dukungan negara-negara Asia Tenggara,
yaitu berupa persamaan kepentingan antara AS, Vietnam dan negara-negara Asia
Tenggara lainnya. AS dan negara-negara Asia Tenggara menyatakan keinginannya
dalam menjaga kebebasan navigasi di LCS dan mengupayakan penyelesaian damai
terhadap sengketa sesuai dengan hukum internasional. Sehingga, Vietnam berani
melakukan MoU dengan AS meskipun di kritik RRT.
Daftar Referensi
Buku
:
Baylis, John and Steve Smith., ed. 2005. The Globalization of world Politics: An Introduction to International Relations.
New York: Oxford University Press Inc.
Heijmans, Annelies, Nicolo Simmonds, dan Hans van de veen.
2004. Searching for Peace in Asia Pacific: An Overview of Conflict
Prevention and Peacebuilding Activities. London: Lynne Rienner Publishers,
Inc.
Hermawan, Yulius. P. 2007. Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Jackson, Robert dan Georg Soroensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jemadu, Aleksius. 2008. Politik
Global dalam Teori & Praktik.
Yogyakrta: Graha Ilmu.
Jurnal
:
Babson, Oliver. 2002. Diplomacy of Isolation; United States
Unilateral Sanctions Policy and Vietnam 1975-1995. WWS Case Study 4/02.
Bellacqua, James. 2012. The China Factor in U.S.-Vietnam
Relations. CNA China Studies.
Brown, Frederick. Z. 2010. Rapprochment Between Vietnam and
the United States dalam Contemporary Southeast Asia, Volume 32, Number 3.
Institute of Southeast Asian Studies. Indonesia.
Referensi
Online
http://www.msc.navy.mil/
publications/pressrel/press11/press40.htm,
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/06/110613_vietnamnavaldrill.shtml
Komentar
Posting Komentar