Contoh Essay


Kerjasama Militer Amerika Serikat dengan Vietnam Dalam Mengelola Ancaman Keamanan Laut Cina Selatan Tahun 2011

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mata Kuliah Studi Kawsan Amerika




Oleh : Samuel F Pardosi - 1370750058







Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Jurusan Hubungan Internasional

Universitas Kristen Indonesia

April 2016

Jakarta

Pendahuluan
Laut Cina Selatan (LCS) merupakan wilayah di kawasan Asia Pasifik yang mengalami berbagai kasus perbatasan maritim. Kasus-kasus tersebut terjadi setidaknya sejak awal abad 20, ketika klaim teritorial mulai diperebutkan  oleh  Republik Rakyat Tiongkok ( RRT) dan dua kekuatan kolonial , yaitu : Jepang dan  Perancis di perairan ini. Setelah Perang Dunia II, muncul juga  Persaingan klaim-klaim baru di antara negara-negara yang baru memerdekakan diri di perairan LCS. Salah satu negara yang terlibat dalam sengketa klaim teritorial di  perairan tersebut adalah  Vietnam. (Baylis, The Globalization of world Politics: An Introduction to International Relations, 2005)
Berdasarkan letak geografisnya, Vietnam merupakan salah satu negara Indocina yang mempunyai garis pantai sepanjang 3,444 kilometer, yang berbatasan langsung dengan LCS. Pada lepas pantai Vietnam, terdapat kawasan perairan LCS dan dua kepulauan yang masih menjadi sengketa, yaitu Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel. Di Kepulauan Spratly, Vietnam memiliki sengketa dengan RRT, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Brunei. Sedangkan, di Kepulauan Paracel, Vietnam memiliki sengketa dengan RRT dan Taiwan. Sengketa perairan di LCS serta sengketa di Kepulauan Spratly dan Kepulauan Paracel mengakibatkan tensi keamanan antara Vietnam  dengan negara yang mengklaim kedaulatannya atas perairan dan kepulauan tersebut.
Keberadaan negara-negara yang mengklaim wilayah kedaulatan Vietnam di LCS merupakan sebuah ancaman eksternal bagi Vietnam. Dalam menghadapi ancaman tersebut, Vietnam melakukan diplomasi dan berbagai kerjasama pertahanan. National Defense White Paper mengatakan Bahwa kerjasama pertahanan merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk mencapai tujuan pertahanan Vietnam. Oleh karena itu, Vietnam secara aktif berpartisipasi dalam kerjasama pertahanan dan keamanan diregional dan internasional. Pada tingkat bilateral, Vietnam mempromosikan kerjasama militer dengan  beberapa negara. Salah satu kerjasama militer yang dilakukan oleh Vietnam adalah dengan Amerika Serikat.
Sebenarnya, Vietnam dengan AS memiliki sejarah konflik pada masa Perang Dingin, khususnya pada periode (1954-1975). Pertikaian tersebut berakhir dengan kemenangan rezim sosialis Vietnam Utara, yang kemudian menyatukan Vietnam Utara dengan Selatan di bawah pemerintahan sosialis. Sejak saat itu, hubungan diplomatik Vietnam dengan AS tidak terjalin selama lebih dari 15 tahun, karena AS memberlakukan sanksi ekonomi dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Vietnam.
Membaiknya hubungan bilateral kedua negara diawali pada tahun 1987. Ini dilakukan dengan melalui sebuah kerjasama yang terkait dengan isu POW/MIA (prisoner of war / missing in action). Pada tahun 1991, kedua negara memutuskan untuk memperbaiki hubungan diplomatik secara resmi. Sejak normalisasi hubungan, berbagai kerjasama telah dilakukan dalam berbagai aspek, salah satunya dalam aspek militer.
Kerjasama militer Vietnam dengan AS dilakukan dalam beberapa tahapan. Tahapan awal yaitu pada periode 1996-1999 yang berfokus pada tiga jenis kerjasama militer, yaitu: konferensi multilateral dan seminar yang diselenggarakan oleh Komando Pasifik AS; kunjungan militer dan kerjasama dalam bidang pencarian dan penyelamatan korban bencana; dan yang terakhir mengenai keamanan lingkungan. Tahapan berikutnya dilakukan pada periode tahun 2000-2004, dimana AS mendorong hubungan kerjasama militer ke arah yang lebih strategis, seperti upaya AS untuk memodernisasi militer Vietnam dan upaya untuk melakukan latihan pertahanan bersama.
Meskipun kemitraan pertahanan ini menguntungkan Vietnam, namun terdapat resiko yang perlu diwaspadai. Kemitraan tersebut dapat menciptakan 4 dampak negatif terhadap hubungan luar negerinya dengan negara lain. Khsusunya, ini dikhawatirkan akan mengundang kecurigaan dan menciptakan insecurity bagi RRT dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Kehadiran AS dalam skema pertahanan Vietnam akan mempengaruhi kalkulasi perimbangan kekuatan di LCS, yang ditakutkan dapat meningkatkan tensi keamanan yang ada. (Heijmans, Searching for Peace in Asia Pacific: An Overview of Conflict Prevention and Peacebuilding Activities , 2004)
Kekhawatiran di atas menjadi kenyataan ketika  RRT merespon negatif peningkatan hubungan kerjasama militer Vietnam dengan  AS yang dilakukan pada tahun 2010. Setelah kunjungan Hillary Clinton ke Hanoi pada tahun 2010, RRT menyatakan akan menggunakan kekatan militer atau sound of cannon untuk menyelesaikan sengketa territorial di perairan LCS. Selain pernyataan tersebut, RRT meningkatkan intensitas patroli di kawasan tersebut yang mengakibatkan 20 kali penangkapan nelayan Vietnam oleh Angkatan laut RRT di LCS pada tahun 2010. Hal ini merupakan suatu resiko  dan dampak dari hubungan kerjasama militer Vietnam dengan AS. Apabila tidak dikelola dengan tepat, kemitraan Vietnam dengan AS justru dapat memprovokasi perang terbuka di LCS.
Namun, terlepas dari kekhawatiran terhadap resiko strategis tersebut, Vietnam tetap melanjutkan kemitraan dalam kerjasama militer dengan AS pada tahun 2011. Salah satu wujudnya berupa pelaksanaan latihan militer gabungan Vietnam dan AS di kawasan LCS pada bulan Juli 2011. Pelaksanaan latihan militer gabungan  ini dengan segera mendapat respon dari RRT. Ini tertulis dalam media terbitan pemerintah RRT pada tahun 2011, dimana dinyatakan bahwa latihan militer Vietnam dengan AS dianggap sebagai unjuk kekuatan militer untuk menantang Beijing.
Dihadapkan pada pernyataan yang provokatif tersebut, Vietnam tetap mempertahankan hubungan pertahanannya dengan AS dengan suatu langkah penegasan dalam kemitraan. Ini dilakukan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani antara Vietnam dan AS, pada bulan September 2011. Dengan pelaksanaan MoU 2011 , kedua negara menegaskan kembali komitmen untuk implementasi penuh dalam melanjutkan Kesepakatan Politik, Keamanan, dan Dialog Kebijakan Pertahanan.
Langakah penegasan kemitraan Vietnam denagn AS dalam MoU 2011 tersebut merupakan focus dalam penulisan essay ini. Apabila Vietnam mempertaruhkan stabilitas keamanan LCS  demi kemitraan pertahanannya dengan AS, ini diduga dikarenakan adanya peluang pencapaian kepentingan yang lebih besar bagi Vietnam.
            Penulisan ini ditujukan untuk mengetahui bentuk-bentuk ancaman di LCS terhadap kedaulatan dan keamanan wilayah Vietnam, untuk mengetahui kesepakatan-lesepakatan strategis serta bentuk-bentuk kerjasama militer antara Vietnam dengan AS pada tahun 2011 dalam mengelola ancaman keamanan Vietnam di LCS serta untuk mengungkap faKtor pendorong Vietnam dalam meningkatkan kerjasama militer dengan AS melalui MoU 2011.
Melalui kasus diatas, penulis beranggapan bahwa topik ini adalah salah satu isu yang menarik dan penting untuk dibahas. Selain itu, kerjasama militer yang dilakukan oleh Vietnam dengan AS merupakan  tindakan yang mengundang reaksi negative dari negara lain, dan bisa saja dengan  kerjasama ini hubungan antara Vietnam dengan negara-negara dikawasan tersebut akan memanas.
Penulis melihat bahwa, kerjasama yang dilakukan Vietnam dengan AS adalah salah satu sikap yang wajar untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayahnya. Negara yang merasa terancam akan kehilangan wilayah kedaulatannya akan melakukan berbagai hal untuk tetap mempertahankan wilayah demi kedaulatan negaranya, seperti: menjalin hubungan dan kerjasama internasional dalam  hal kemiliteran serta mempererat hubungan diplomatik dengan negara-negara tertentu. (Hermawan, Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi, 2007)
Kerjasama Militer Vietnam dengan Amerika Serikat Terkait Dengan Ancaman Keamanan Laut Cina Selatan
Kerjasama antara Vietnam dengan AS diawali dengan membaiknya hubungan bilateral kedua negara pada tahun 1987, dengan adanya sebuah kerjasama yang terkait dengan isu POW/MIA. Kerjasama ini berupa pencarian pasukan AS yang hilang pada Perang Vietnam. Untuk kerjasama ini, Jenderal Vessey dan Presiden Reagan melakukan suatu kunjungan khusus ke Vietnam.
Pada tahun 1995, normalisasi hubungan diplomatik secara resmi terjalin di antara Vietnam dengan AS. Kedua negara mulai menggagas beragam kerjasama di bidang ekonomi, perdagangan, konsuler, dan normalisasi diplomatik.Namun, pemerintah Vietnam menunjukan keengganan untuk melakukan hubungan kerjasama dengan AS di dalam sector pertahanan. Pada tahun 1996 dan 1997, AS menawarkan Kementrian Pertahanan  Vietnam berbagai titik awal untuk kerjasama militer, dan mengemukakan serangkaian kegiatan dalam kerjasama pertahanan. Ini dilakukan dengan tetap memprioritaskan masalah POW/MIA. Prosesnya dimulai pada bulan Juli 1996, ketika The U.S. National Security Advisor, Anthony Lake, mengunjungi Vietnam untuk mulai membentuk hubungan militer antara Vietnam dan AS. (Jemadu, Politik Global dalam Teori & Praktik, 2008)
 Pada bulan Oktober di tahun yang sama, asisten Menteri Pertahanan, Kurt Campbell, memimpin delegasi yang terdiri dari Departemen Pertahanan, Departemen Luar Negeri, Dewan Keamanan Nasional, dan Komando Pasifik (USPACOM), pada kunjungannya ke Vietnam. Campbell memulai diskusi dengan Menteri Pertahanan Vietnam, Letjen Nguyen Thoi Bung mengenai hal-hal di luar POW/MIA. Campbell mengusulkan beberapa program, yaitu: kunjungan beberapa kolonel senior  Vietnam ke AS, kunjungan Komandan Angkatan Laut AS ke Vietnam, kunjungan Universitas Pertahanan National AS dan The Air Force War College. Campbell juga mengusulkan pertukaran pelajar, latihan kemanusiaan secara multilateral, latihan bantuan bencana, dan pertukaran pejabat peradilan militer.
Tawaran dan kunjungan-kunjungan yang dilakukan oleh AS ke Vietnam direspon oleh Vietnam pada awal 1997 dengan suatu Keputusan Komite Sentral ke-9 dari Partai Komunis Vietnam. Partai Komunis Vietnam mengungkapkan ranjau darat, pencarian dan penyelamatan, bantuan bencana alam, penelitian medis, dan dialog tentang isu-isu keamanan regional. Kunjungan Cohen ke Hanoi juga menghasilkan kesepakatan dengan Menteri Pertahanan Vietnam, Pham Van Tra. Vietnam menyetujui kunjungan kapal-kapal militer AS ke Vietnam. Pham Van Tra menyatakan bahwa kunjungan kapal AS akan menjadi aspek positif dari rencana bertahap dalam memperluas keterlibatan militer. Pada tahun yang sama, Presiden William Clinton mengunjungi Vietnam yang merupakan perjalanan pertama Presiden AS ke Vietnam sejak Richard Nixon pergi ke Saigon ( Ho Chi Minh City) pada tahun. (Oliver, Diplomacy of Isolation; United States Unilateral Sanctions Policy and Vietnam 1975-1995, 2002)
Dari tahun 2000 hingga 2004, Kementerian Pertahanan Vietnam bekerja keras untuk memastikan bahwa komitmennya dalam peningkatan keterlibatan militer AS bukan sebagai tujuan kebijakan luar negeri secara keseluruhan. Vietnam tidak ingin tergantung secara militer pada kerjasama dengan satu negara saja. Oleh karena itu, Kementrian Pertahanan Vietnam akan memastikan terlebih Dahulu kerjasama pertahanan ini tidak akan memiliki dampak strategis pada hubungan bilateral Vietnam dengan negara lainnya. Yaitu terhadap Hubungan bilateral dengan RRT dan hubungan multilateral dengan negara tetangga di Asia Tenggara yang tergabung dalam the Association of South east Asian Nation (ASEAN).
Pada tahun 2005 sampai 2010, hubungan pertahanan Vietnam dengan AS mulai berkembang secara strategis. Ini diawali dengan pertemuan antara Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld dan Perdana Menteri Vietnam, Phan Van Khai di Washington DC pada pertengahan 2005. Pada tahun yang sama, Vietnam menandatangani perjanjian akhir yang menjadi  Syarat untuk memulai Pendidikan Militer dan Pelatihan dalam International Millitary Education and Training (IMET). Ini ditujukan untuk menerima pelatihan bahasa Inggris bagi militer Vietnam di AS. Tahun 2005 menjadi awal dilaksanannya program pendidikan dan pelatihan militer dalam kerjasama militer Vietnam dengan AS. Berikut ini merupakan grafik pendidikan dan pelatihan militer Vietnam dalam IMET sejak tahun 2005-2008.
Dalam pengembangan strategis selanjutnya, Vietnam dan AS merancang rencana untuk mendatangkan kapal-kapal Angkatan Laut AS di perairan Vietnam. Pada tahun 2007 dan 2008, kapal angkatan Laut AS dan kapal kemanusiaan Angkatan Laut AS memasuki perairan Vietnam untuk suatu kunjungan. Selain itu,  Vietnam juga mengIkuti pelatihan penjaga perdamaian, latihan angkatan laut gabungan seperti Passing Exercise (PASSEX), mendiskusikan tentang Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ACSA), melakukan kerjasama hidrografi, dan studi bersama mengenai dampak strategis dari pergeseran meteorologi dan perubahan permukaan laut. Ini dilanjutkan dengan Penandatanganan International Traffic in Arms Regulations (ITAR) pada tahun 2007, yang merupakan upaya pembatasan dalam perdagangan senjata-senjata militer yang tidak mematikan atau non-lethal weapon. Pada tahun 2008, pemerintahan Bush Melalui Kementerian Pertahanan AS berupaya membawa kerjasama dengan Vietnam ke tingkat yang lebih tingg. Upaya AS tersebut mendapatkan respon positif dari Vietnam.Vietnam mulai membuka diri dalam diskusi yang mengarah pada isu-isu pertahanan regional, serta modernisasi pertahanan Vietnam. Pada akhirnya, di tahun 2009, AS memberikan Pendanaan militer asing (FMF) untuk Mendorong modernisasi Pertahanan Vietnam Sebesar $ 500.000. Mengenai penjualan militer asing (FMS), menurut Departemen Luar Negeri AS, Vietnam mengajukan surat permintaan untuk suku cadang helikopter dan laboratorium Bahasa Inggris.
Pendanaan militer asing (FMF) dilanjutkan pada tahun 2010 sebesar $ 1.350.000. Mulai tahun 2010, kedua negara mempercepat proses kerjasama dengan membentuk kemitraan di beberapa bidang. AS mengidentifikasi Vietnam sebagai salah satu mitra baru sebagai bagian dari Upaya rebalancing AS di kawasan Asia-Pasifik. Pada tanggal 17 Agustus 2010, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Asia Selatan dan Asia Tenggara, Robert Scher, bertemu Wakil Menteri Pertahanan Vietnam, Nguyen Chi Vinh, untuk melakukan dialog pertahanan formal yang pertama. Pada tahun ini, kedua negara berupaya untuk merespon RRT yang meningkatkan klaimnya keperairan dan pulau-pulau di LCS, serta terus bekerja sama pada isu-isu kebebasan dan keamanan maritime.
Kerjasama Vietnam dengan AS dalam mengelola ancaman keamanan LCS terus ditingkatkan pada tahun 2011, yang akan dipaparkan pada bagian selanjutnya. Kerjasama militer Vietnam dengan AS selama tahun 2011 bertujuan untuk meningkatkan hubungan ke dua negara ke dalam tingkat yang lebih strategis. Yaitu dengan memfokuskan pengembangan kemampuan militer kedua negara dan memperluas batas-batas keterlibatan militer yang ditujukan untuk memenuhi tantangan keamanan.
Pada pertengahan 2011, Vietnam mengirimkan perwira angkatan darat pertama ke  U.S. National War College. Senior Kolonel Hà thanh Chung, seorang kepala departemen di The Vietnamese Military Science Academy, yang bergabung kebijakan Rebalancing merupakan kebijakan menyeimbangkan kembali kekuatan strategis AS pada pemerintahan Presiden Obama di kawasan Asia Pasifik, khususnya untuk bidang ekonomi. Selain itu, Vietnam dan AS melakukan kerjasama dalam hal perbaikan kapal noncombatant AS. Yaitu perbaikan kapal kargo dan amunisi, Military Sealift Command (MSC) yang dinahkodai oleh Richard E. Byrd, yang mengunjungi pelabuhan Cam Ranh pada bulan Agustus 2011. Ini merupakan kunjungan yang pertama oleh sebuah kapal Angkatan Laut AS ke pelabuhan Cam Ranh selama lebih dari tiga dekade. Byrd menghabiskan tujuh hari di Cam Ranh untuk perbaikan dan pemeliharaan rutin, yaitu pembersihan lambung kapal, pembersihan baling-baling kapal, perbaikan pipa kapal, perbaikan sistem pendingin salt water cooling yang mendinginkan mesin kapal dan mengaktifkan AC (air conditioning). Pada bulan Juni 2011, Asisten Menteri Luar Negeri Untuk Urusan Politikdan militer AS, Andrew J. Shapiro, bertemu Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam, Pham Binh Minh, untuk berbagi pandangan mengenai hubungan bilateral dan masalah keamanan regional. Yaitu membahas langkah-langkah untuk lebih Memperkuat kerjasaman nonproliferasi,  kontraterorisme, kontra narkotika, POW-MIA, penanganan dioxin, isu-isu agen orange, bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana, serta aspek-aspek lain dalam kerjasama pertahanan dan keamanan. (Z B. F., 2010)
Kedua belah pihak juga berkomitmen untuk bekerja menuju "kemitraan strategis" antara Vietnam dengan AS. Hubungan kemitraan strategis ini khususnya ditujukan untuk menanggapi tensi keamanan di LCS. Tensi keamanan di LCS semakin meningkat pada pertengahan tahun 2011, terutama antara Vietnam dan RRT. Ini berupa pelanggaran yang dilakukan RRT di kawasan perairan yang merupakan bagian dari kedaulatan Vietnam, yaitu tindakan pemotongan kabel eksplorasi yang digunakan oleh perusahaan minyak  Vietnam (PetroVietnam), pada 9 Juni 2011. Tindakan ini direspon oleh pihak Vietnam melalui pernyataan resmi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Nguyen Phuong Nga mengatakan bahwa Vietnam menentang tegas tindakan RRT yang menghancurkan, menghalangi kegiatan eksplorasi dan survei pada landas kontinen dan zona ekonomi eksklusif Vietnam (Nguyen Dikutip Hoang, 2011).
Penulis melihat bahwa setiap negara yang merasa terancam akan kehilangan wilayah kedaulatannya akan melakukan berbagai cara untuk tetap menjaga dan menegakkan keutuhan wilayahnya. Seperti yang telah dilakukan oleh Vietnam dengan Amerika Serikat melalui kerjasama bilateral dalam berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, pendidikan dan politik, khususnya kerjasama dalam bidang militer menjadi dasar utama Vietnam untuk tetap bisa menjaga keamanan dan keutuhan wilayahnya. Selain itu, penulis juga melihat bahwa sejarah perang antara Vietnam dan Amerika Serikat tidak menjadi masalah utama kedua negara untuk tetap melakukan kerjasama internasional. 
Kesimpulan
Sebagai penutup, penulis melihat bahwa Kerjasama militer Vietnam dengan AS dalam  mengelola ancaman keamanan di Laut Cina Selatan pada tahun 2011 melalui penanda tanganan MoU bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas militer Vietnam, serta menghadirkan kekuatan AS di LCS. Tindakan Vietnam ini beresiko meningkatkan tensi konflik LCS, mengingat bahwa RRT selalu memprotes kedekatan militer Vietnam dengan AS. Pada tahun 2011, sebelum penandatanganan MoU, Vietnam dan AS melakukan latihan militer bersama yang dimana dinyatakan bahwa latihan ini dianggap sebagai unjuk kekuatan militer untuk menantang RRT. Selain itu, dengan kedatanganan Hillary  Clinton ke Vietnam, RRT menyatakan akan menggunakan kekuatan militer atau sound of cannon untuk menyelesaikan sengketa territorial di perairan LCS.
Dengan adanya resiko di atas, penulis meneliti motivasi Vietnam melakukan MoU dengan AS. Analisis dilakukan dengan logika Neo Realisme, serta kerangka pemikiran keamanan nasional, aliansi dan balance of power. Setelah melakukan serangkaian analisis, penulis menyimpulkan bahwa terdapat setidaknya 3 alasan utama Vietnam melakukan MoU dengan AS.
Pertama, Angkatan Laut AS diharapkan dapat beroperasi di kawasan LCS dalam kegiatan kerjasama dan pelatihan dengan Vietnam, melalui USPACOM dan USCG untuk mengimbangi pengoprasian angkatan laut RRT di kawasan tersebut. Sehingga, perimbangan kekuatan di perairan LCS ini akan menghasilkan ekuilibrium, yaitu upaya RRT Untuk memperoleh posisi hegemoni di LCS akan bisa digagalkan oleh kekuatan Vietnam dengan AS.
Kedua, untuk mencegah tindakan patrol RRT yang menghalangi kegiatan Eksplorasi minyak, serta survei pada landas kontinen dan zona ekonomi eksklusif  Vietnam. Sebelum MoU, RRT telah melakukan pemotongan kabel eksplorasi yang dipasang oleh kapal perusahaan minyak Vietnam (PetroVietnam) dan menuntut Vietnam menghentikan kegiatan eksplorasi dikawasan tersebut.
Ketiga, terdapatnya dukungan negara-negara Asia Tenggara, yaitu berupa persamaan kepentingan antara AS, Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. AS dan negara-negara Asia Tenggara menyatakan keinginannya dalam menjaga kebebasan navigasi di LCS dan mengupayakan penyelesaian damai terhadap sengketa sesuai dengan hukum internasional. Sehingga, Vietnam berani melakukan MoU dengan AS meskipun di kritik RRT.

Daftar Referensi
Buku :
Baylis, John and Steve Smith., ed. 2005. The Globalization of world Politics: An Introduction to International Relations. New York: Oxford University Press Inc.
Heijmans, Annelies, Nicolo Simmonds, dan Hans van de veen. 2004. Searching for Peace in Asia Pacific: An Overview of Conflict Prevention and Peacebuilding Activities. London: Lynne Rienner Publishers, Inc.
Hermawan, Yulius. P. 2007. Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional: Aktor, Isu dan Metodologi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Jackson, Robert dan Georg Soroensen. 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Jemadu, Aleksius. 2008. Politik Global dalam Teori & Praktik. Yogyakrta: Graha Ilmu.

Jurnal :
Babson, Oliver. 2002. Diplomacy of Isolation; United States Unilateral Sanctions Policy and Vietnam 1975-1995. WWS Case Study 4/02.
Bellacqua, James. 2012. The China Factor in U.S.-Vietnam Relations. CNA China Studies.
Brown, Frederick. Z. 2010. Rapprochment Between Vietnam and the United States dalam Contemporary Southeast Asia, Volume 32, Number 3. Institute of Southeast Asian Studies.  Indonesia.

Referensi Online

http://www.msc.navy.mil/ publications/pressrel/press11/press40.htm,

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/06/110613_vietnamnavaldrill.shtml


                                                                                                                                                                 

Komentar

Postingan Populer