ANALISA
KEPENTINGAN EKONOMI-POLITIK AMERIKA SERIKAT DI BALIK DEFISIT PERDAGANGAN DENGAN
CHINA (2005-2010)
Diajukan
sebagai Salah Satu Syarat Mata Kuliah Ekonomi Politik Internasional
Oleh
:
Samuel
F Pardosi
1370750058
Program
Studi Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Kristen Indonesia
Januari,
2016
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Globalisasi
telah membawa perubahan dalam perkembangan teknologi dan perekonomian saat
ini.Adanya globalisasi, yang ditandai dengan semakin kaburnya batas-batas
teritorial negara,menyebabkan perpindahan barang dan jasa terjadi secara masif
dan cepat. Proses globalisasi dalam berbagai bidang serta adanya perkembangan
teknologi dan informasi menimbulkan gejala penyatuan ekonomi semua negara.
Globalisasi telah menyebabkan berbagai perubahan dalam relasi dan hubungan
antar negara di dunia terutama dalam perdagangan.
Perdagangan
merupakan pendorong utama bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara.[1]Hal
ini dikarenakan perdagangan dapat memperluas kapasitas konsumsi dari suatu
negara, meningkatkan output dunia, dan menyediakan akses terhadap sumber daya
yang tidak dapat diproduksi oleh suatu negara, terutama bagi AS.AS merupakan
negara yang selama ini dikenal sebagai hegemon dan negara yang ekonominya
sangat terintegrasi dengan ekonomi dunia.Integrasi ini pada dasarnya
menciptakan keuntungan sekaligus tantangan bagi sektor bisnis, perdagangan,
konsumen di AS.Bagi AS perdagangan menjadi penting sesuai dengan fungsi dari
perdagangan yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian.Dari perdagangan internasional yang
dilakukan AS dengan negara-negara di dunia, 30% nya merupakan perdagangan AS
dengan negara-negara dikawasan Asia Pasifik. Perdagangan AS dengan kawasan Asia
Pasifik jauh lebih besar dibandingkan dengan total perdagangan AS ke Uni Eropa. Asia Pasifik telah menjadi
kawasan yang sangat penting bagi keseluruhan aspek dari kepentingan Amerika
Serikat dalam jangka panjang.Perekonomian negara-negara dikawasan Asia Pasifik
meningkat sangat pesat, terutama China.Hubungan China dan AS sendiri baru mulai
berkembang ketika China mulai membuka dirinya terhadap dunia luar melalui open doorpolicy yang diterapkan China pada masa pemerintahan Deng
Xiaoping.
Hubungan
Perdagangan AS dengan China sudah terjalin sejak akhir tahun 1970-an. Hubungan
dagang AS dengan China dimulai ketika kedua negara mengumumkan hubungan
diplomatiknya pada januari 1979, dan menandatangani perjanjian dagang bilateral
pada juli 1979, serta memberlakukan MFN (Most
Favored-Nations) pada awal tahun 1980.Hubungan perdagangan bilateral keduanya
sangat signifikan.Dengan adanya perjanjian dagang diantara kedua negara, maka
volume perdagangan diantara keduanya juga meningkat.Namun, hubungan dagang
kedua negara tersebut tidak pernah lepas dari berbagai masalah, salah satunya
adalah defisit perdagangan dalam jumlah cukup besar yang dialami AS.Perdagangan
yang selama ini dilakukan AS dengan China dapat dikatakan tidak seimbang.Dalam
hubungannya dengan China, AS selalu mengalami defisit perdagangan dan hanya
merasakan surplus perdagangan sejak empat tahun pertama ditandatanganinya
perjanjian perdagangan.Sejak tahun 1983, AS mengalami defisit perdagangan
dengan china yang jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya, terutama berkembang
pesat setelah tahun 1958.
Rumusan
Masalah
Perdagangan
yang dilakukan AS dengan China telah menimbulkan defisit yang sangat besar,
bahkan jika dibandingkan dengan defisit perdagangan yang dialami AS dengan
jumlah semua mitra dagang seperti negara-negara OPEC, EU, Jepang dan
lainnya.Besarnya defisit perdagang yang dialami AS telah berdampak pada
instabilitas perekonomian AS.
Dari
permasalah diatas maka rumusan masalahnyaadalah: mengapa Amerika Serikat tetap
melalukan perdagangan dengan China meskipun terus mengalami defisit perdagangan
pada periode tahun 2005-2010?
BAB
II
PEMBAHASAN
Teori Ekonomi Politik Internasional
Dalam
perkembangan Ilmu Hubungan Internasional, Ekonomi Politik Internasional (EPI)
telah menjadi kajian dalam studi Hubungan Internasional sejak tahun 1970-an.
Dalam pengkajian EPI maka dibutuhkan integrasi teori-teori dari disiplin ilmu
ekonomi dan politik, misalnya di dalam masalah isu perdagangan internasional,
moneter dan pembangunan ekonomi. Terdapat 3 aspek yang mendukung Teori EPI
yaitu :ekonomi
(alokasi sumber daya), politik ( alokasi sumber daya wewenang),
dan internasional (level global atau antar negara).[2]
EPI telah menjadi suatu kajian yamg mengkolaborasikan state dan market sebagai
suatu kesatuan di dalam level global.
Menurut
Balaam, ekonomi politik adalah bidang studi yang menganalisa masalah yang muncul
dari eksistensi paralel dan eksistensi dinamik “negara” dan “pasar” di dunia
modern.[3]Interaksi
ini yang mendefenisikan ekonomi-politik dapat dilukiskan dalam sejumlahcara.
Untuk tingkat tertentu, ekonomi politik berfokus pada konflik fundamental
antara kepentingan individu dan kepentingan lebih luas masyarakat dimana
individu eksis.
Secara
tradisional ketika membicarakan perilaku ekonomi berarti orang yang memaksimalkan
nilai tukar, sedangkan perilaku politik akan menyangkut pemberian suara dan
bergabung dengan kelompok kepentingan. Eksistensi paralel dan eksistensi
bersama “negara” dan “pasar” dalam dunia modern ini melahirkan apa yang
dinamakan dinamika “ekonomi politik”. Tanpa kedua unsur itu tidak akan ada
ekonomi politik. Meskipun negara menyangkut politik dan pasar menyangkut
ekonomi sebagai sesuatu yang terpisah dalam dunia modern, namun kedua unsur itu
tidak bisa dipisahkan secara keseluruhan.
Jika ekonomi tentang pencapain
kekayaan dan politik adalah tentang pencapaian kekuatan (power), keduannya berinteraksi dalam cara yang rumit dan
memusingkan.[4]Hal
ini merupakan hubungan yang kompleks dalam konteks internasional antara politik
dan ekonomi, antara negara dan pasar, yang merupakan inti dari EPI. Defenisi
lain mengenai ekonomi politik internasional menurut Martin Staniland adalah
hubungan perubahan-perubahan politik dan ekonmi serta dampaknya bagi aktivitas
politik, pasar dan produksi (domestik dan global).
Dalam
konteks internasional, ekonomi tidak akan pernah lepas dari politik. Dalam satu
aliran yaitu Aliran
Liberal disebutkan bahwa pendekatan
liberal terhadap hubungan internasional cenderung bersifat ekonomitik. Hal ini
berarti ketika negara melakukan aktivitas ekonomi maka akan terdapat esensi politik yang mendasari hubungan
tersebut. Eksistensi paralel antara negara (politik) dan pasar (ekonomi)
menciptakan ketegangan fundamental yang memberikan ciri pada ekonomi politik
itu sendiri.Negara dan pasar tidak selalu konflik namun kedua unsur ini selalu
tumpang tindih sehingga terlihat sangat fundamental.Kini aktualitas ekonomi
politik semakin kuat karena pada kenyataanya kehidupan ekonomi tidak bisa
dipisahkan dari kehidupan politik.
Liberalisme
Dalam
liberalisme, perdagangan internasional sangat penting sebagai proses yang
memungkinkan tersedianya barang dan jasa yang kompetitif bagi konsumen. Untuk
memungkinkan terjadinya perdagangan internasional, perlu adanya suatu negara
yang berfungsi sebagi hegemon.[5]Kaum
liberalis merekomendasikan untuk membuka pasar seluas-luasnya, agar
faktor-faktor produksi dapat berlalu lalang antar negara dan produk yang
superior dapat dihasilkan, dijaga oleh hegemon.Dalam liberalisme, diperlukan
hegemoni negara maju.Teori Hegemonik menyatakan bahwa dengan melihat
perkembangan sejarah manusia, terdapat berbagai negara yang berperan sebagai
hegemon, baik dalam lingkup global maupun regional.Dalam sejarah moderen,
Inggris (Pax-Britanica) dan AS (Pax-Americana) adalah negara
hegemon.Perekonomian liberal global membutuhkan adanya hegemoni agar terjadi
lalu lintas perekonomian lintas negara.
Dalam
praktek liberalisme terdapat negara-negara yang tidak bersedia meliberalisasi
pasar karena pertimbangan dampak negatif yang dapat timbul.Dalam kondisi
seperti itu diperlukan negara hegemoni yang mau dan mampu memaksa negara-negara
untuk membuka perekonomiannya agar terjadinya pasar bebas. Negara hegemon juga
diperlukan untuk membentuk dan menegakkan
rezim perekonomian liberal yang memuat sejumlah persyaratan bagi berlangsungnya
ekonomi pasar.Melalui rezim tersebut kemudian negara-negara dibujuk atau
dipaksa untuk mengadopsi suatu sistem ekonomi global.[6]Liberalisasi
pasar diwujudkan dalam Free Trade Area.Dalam
perundingan FTA, prinsip yang lebih mengemuka adalah resiprositas, prinsip
timbal balik.Prinsip ini mengarah pada kesejajaran antar pihak yang melakukan
persetujuan baik antar sesama negara maju, sesama negara berkembang dan negara
maju.Prinsip ini sering diarahkan oleh negara maju untuk sedapat mungkin
menghilangkan aspek fleksibilitas.Kesepakatan yang dicapai FTA dikenal dengan
sebutan WTO plus karena konsesi yang diberikan oleh para pihak yang terlibat
melebihi konsesi yang diikatkan ke WTO. Di dalam perundingan FTA, konsesi yang
diberikan biasanya berkaitan dengan cakupan dan isi persetujuan selain
elemen-elemen baku seperti trade in goods,
rules of origin service, trades inservices dan intelectual property rights. Negara maju
biasaya ingin memasukkan elemen public
procurement, investment dan competittion dalam persetujuan FTA.[7]Dalam
elemen trade in goods, negara maju sering bersikap curang, mereka tidak mau
membuka pasarnya untuk beberapa produk sensitif dengan alasan bertentangan
dengan UU.Sementara itu mereka sangat menuntut negara berkembang untuk membuka
penuh akses pasarnya.Dalam liberalisasi perdagangan jasa, negara maju jauh
lebih unggul. Mereka akan berupaya keras agar negara berkembang ingin membuka
pasar jasanya. Karena hal ini tidak sepenuhnya dapat dilakukan di WTO dengan
ketentuan General Agreement on Trade in
Services/GATS, seperti klausul mengenai development
safeguards yang tidak mengharuskan negara berkembang untuk melakukan
tindakan liberalisasi. Dalam elemen hak kekayaan intelektual, negara maju
menggunakan FTA untuk mengupayakan pembatasan fleksibilitas yang dimiliki
negara-negara berkembang dalam menerapkan rejim HKI.Pembatasan ini dikenal
dengan sebutan TRIPs Plus.Negara maju juga mengupayakan negara berkembang untuk
menjadi pihak atas konvensi-konvensi IPRs yang dipandang lebih menguntungkan
negara maju.Kemudian upaya negara maju untuk memperpanjang masa berlakunya
paten yang dimiliki perusahaan-perusahaannya (evergreening patent).[8]
HUBUNGAN PERDAGANGAN AMERIKA
SERIKAT-CHINA (2005-2010)), FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB DEFISIT PERDAGANGAN DAN DAMPAK
DEFISIT PERDAGANGAN AMERIKA SERIKAT-CHINA TERHADAP PEREKONOMIAN AS
Hubungan Perdagangan Amerika
Serikat dan China
Perdagangan
AS-China meningkat pesat setelah kedua negara membangun kembali hubungan
diplomatik pada Januari 1979, menandatangani perjanjian perdagangan bilateral
(juli 1979), dan diberikannya status MFN China pada awal tahun 1980.[9]
Pada tahun 1979 (ketika reformasi China dimulai), total perdagangan AS-China
(ekspor dan impor) sekitar 2milyar, China menduduki posisi 23 sebagai pasar
ekspor terbesar AS dan 45 terbesar sumber impor AS. Pada tahun 2010,
perdagangan barang kedua negara mencapai 457 milyar dollar; China merupakan
mitra dagang kedua terbesarAS (setelah Kanada), ketiga terbesar pasar ekspor AS
(setelah Kanada dan Meksiko), dan sumber impor terbesar AS.
Dalam
beberapa tahun terakhir ini China telah menjadi pertumbuhan tercepat bagi pasar
ekspor AS.Hal ini tentu tidak terlepas dari reformasi ekonomi yang dilakukan
China dan tergabungnya China sebagai anggota WTO pada tahun 2001.Kemajuan
perekonomian China dengan segala perkembangan baik dalam berbagi sektor telah
menjadikan China sebagai negara yang dianggap mampu menyaingi kebesaran AS
sebagai hegemon.Saat ini, China merupakan mitra dagang terbesar AS di kawasan
Asia Pasifik dan merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi AS setelah
Kanada.China telah menjelma menjadi negara yang mulai mendominasi dalam
perekonomian dunia.
Meskipun reformasi ekonomi China dan
pertumbuhan ekonomi yang pesat telah memperluas hubungan perdagangan AS dengan
China, namun ketegangan antar kedua negara juga muncul melalui berbagai macam
isu perdagangan.Dari periode 2005-2010 terdapat berbagai isu perdagangan yang
terjadi antara AS dengan China.Isu-isu tersebut menyebabkan dinamika hubungan
ekonomi perdagangan kedua negara mengalami permasalahan yang cukup kompleks.
Isu-isu tersebut antaralain :[10]
1. Pada
tanggal 21 juli 2005, dalam menangani tuntutan AS, pemerintah China mengumumkan
bahwa mata uangnya akan dievaluasi (dari 8.28 Yuan menjadi 6.88 Yuan terhadap 1
dollar AS) dan bahwa kedepannya akan terus dilakukan fleksibilitas terhadap
nilai Yuan. Namun ternyata bank sentral China tetap mengambil kebijakan untuk
terus melakuakn intervensi di pasar mata uang untuk menjaga nilai tukar yang
stabil.
2. Pada
tanggal 8 november 2005, the United States Trade
Representative (USTR) atau perwakilan perdagangan AS mengumumkan bahwa AS
dan China telah melakukan perundingan intensif selama tiga bulan, guna mencapai
kesepakatan mengenai perdagangan tekstil. Perjanjian ini berlangsung
berdasarkan kesepakatan tentang
peraturan perdagangan yang ada di WTO. AS mengugat China mengenai kasus
perlindungan tekstil China terhadap lebih dari 30 produk tekstil, dan rendahnya
nilai kuota yang diberlakukan terhadap produk tekstil impor.
3. Pada
bulan desember 2006, China menjadi tuan rumah pertama dalam StrategicEconomic Dialogue (SED) atau perundingan
ekonomi strategis AS-China yang dipimpin oleh menteri keuangan, Henry Paulson
dan Wakil Perdana Menteri China Wu Yi. Pembicaraan difokuskan pada isu-isu
berikut: Fleksibilitas nilai tukar China, ketidakseimbangan perdagangan
bilateral antara AS-China, pelanggaran hak kekayaan intelektual oleh China,
isu-isu energi dan lingkungan. Departemen keuangan AS merilis sebuah laporan
pada tanggal 19 desember2006, yang mengacu kepada China sebagai manipulator
mata uang untuk tujuan mendapatkan keuntungan.
Faktor –Faktor Penyebab Defisit
Perdagangan AS terhadap China
China sebagai Major Center Global Supply Chains
Banyak
analisis berpendapat bahwa peningkatan tajam dalam impor AS dari China (dan
karena itu ketidakseimbangan pertumbuhan perdagangan) sebagian besar merupakan
akibat dari pergerakan fasilitas produksi dari negara lain (terutama Asia) ke
China. Artinya, berbagai produk yang digunakan harus dibuat di tempat-tempat
seperti Jepang, Taiwan, Hongkong, dan kemudian di ekspor ke AS, dan sekarang
dibuat di China (dalam banyak kasus, oleh perusahaan asing di China) dan
diekspor ke AS. Sebagai gambaran, pada tahun 1990, 47,1% dari nilai impor
manufaktur AS berasal dari negara-negara Pasifik (termasuk China). Pada tahun
2010, negara Pasifik menyumbang 42,7% dari total impor AS. Selama periode yang
sama, total impor manufaktur AS yang berasal dai China telah meningkat dari
3,6% menjadi 21,4%. Dengan kata lain, China telah menjadi sumber yang semakin
penting untuk impor manufaktur AS.
Produsen-produsen di seluruh Asia
Timur, secara khusus dari Hongkong, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan
Taiwan telah memindahkan sebagian besar porsi dari kapasitas produksi mereka ke
China. Defisit perdagang AS dengan China meningkat secara paralel dengan
meningkatnya investasi luar negeri dalam fasilitas-fasilitas produksi China.
Krisis Finansial Global AS tahun
2008
Krisis finansial di AS yang terjadi
pada tahun 2008 merupakan akumulasi kelesuan ekonomi yang menapaki masa
kritisnya di akhir tahun 2007. Krisis finansial berasal dari kredit disektor
properti ini diperparah dengan dampak korosif yang dihasilkan oleh kebijakan
uang longgar di tahun 2001-2003 yang diterapkan oleh Alan Greenpan selaku
Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang semakin menguatkan
argumen bahwa krisis finansial di AS merupakan produk kerentanan yang berasal
dari internal sektor finansial AS sendiri. Hal ini menyebabkan banyaknya orang
yang kemudian meminjam uang di bank dan mengalihkannya kepada sektor lain yang
dianggap memiliki nilai investasi yang besar, salah satunya ialah sektor
properti. Konsekuensi inilah yang pada akhirnya gagal diproyeksi AS sehingga
terjadilah krisis di tahun 2008 yang bermula dari AS dan kemudian bereskalasi
dalam tatanan global.[11]
Gelombang krisis ekonomi AS menjadi besar
dan ikut mempengaruhi perekonomian banyak negara yang melakukan transaksi
dengan menggunakan mata uang Dollar AS sehingga disebut krisis ekonomi
global.Secara fundamental, sebenarnya ekonomi AS cukup kuat sehingga walaupun
mengalami krisis ekonomi, ekonomi AS tetap tumbuh walau dengan persentase yang
jauh dari harapan.Masalah terbesarnya adalah psikologi pasar yang cenderung
ketakutan akibat gelombang krisis ini.
Laju ekonomi perdagangan antara AS
dan China ketika kedua negara tersebut mengalami kesenjangan terhadap surplus
perdagangan yang berbeda jauh membuat hubungan perdagangan kedua negara semakin
kompleks.Disatu sisi populasi penduduk China yang besar, serta kemajuan ekonomi
China yang berkembang pesat, dapat menjadi peluang dan pasar bagi para
eksportir AS.Namun walaupun demikian pasaran produk-produk AS di China tidak
dapat sebaik pasaran produk China di AS.Hal ini disebabkan oleh harga
produk-produk dalam negeri China sendiri, sehingga produk-produk buatan AS
kalah bersaing dengan produk-produk buatan China baik dalam pasar domestik AS
sendiri maupun di pasaran China.
Selain kebijakan mata uang China
yang dianggap merugikan perdagangan AS, terdapat juga kebijakan China lainnya
yang berpengaruh terhadap defisit perdagangan yang dialami AS yaitu kebijakan
inovasi pribumi di AS.Kebijakan ini merupakan kebijakan yang dengan tegas
mendukung perusahaan domestik daripada perusahaan asing, terutama dalam
pengadaan pemerintahan.[12]
Dampak Defisit Perdagangan AS
akibat Hubungan Dagangnya dengan China
Sejak normalisasi hubungan AS-China
dan ditandatanganinya perjanjian dagang kedua negara maka secara tidak langsung
telah memberikan dampak yang signifikan terhadap total perdagangan kedua negara
terlebih ketika China memasuki WTO dan menjadi negara dengan perkembangan
ekonomi yang pesat dengan ekspansi pasarnya yang luas, terutama di AS.
Peningkatan hubungan dagang yang disertai dengan peningkatan jumlah total
perdagangan ternyata telah memberikan dinamika baru dalam hubungan kedua negara
yaitu dengan terjadinya defisit perdagangan, penurunan GDP AS, peningkatan
pengangguran, melemahnya dollar.
Fenomena Defisit Perdagangan AS
terhadap China
Peningkatan hubungan ekonomi
perdagangan AS-China telah memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap
perekonomian kedua negara.Dinamika yang timbul akibat hubungan dagang kedua
negara tidak jarang memberikan friksi dalam hubungan bilateral kedua negara.
Dalam hubungan dagangnya dengan
China, AS telah mengalami defisit perdagangan dari tahun ke tahun. Dari data statistik
memang menunjukkan bahwa AS mengalami defisit yang cukup signifikan dari tahun
2005-2010 seperti terlihat di table dibawah :
Gambar.Tabel Perdagangan AS-China,
2005-2010
Tahun
|
Ekspor AS
|
Impor AS
|
Trade Balance
|
2005
|
41,8
|
243,5
|
-201,6
|
2006
|
55,2
|
287,8
|
-232,5
|
2007
|
65,2
|
321,5
|
-256,3
|
2008
|
71,5
|
337,8
|
-266,3
|
2009
|
69,6
|
296,4
|
-226,8
|
2010
|
91,9
|
364,9
|
-273,1
|
Melihat
besarnya defisit yang dialami AS maka wajar banyak pemikiran yang menyatakan
bahwa hubungan perdagangan dengan China ini dapat mengancam kestabilan
perekonomian AS.Terjadinya defisit perdagangan yang disebabkan kebijakan China
yang tidak adil dianggap telah membuat banyak perusahaan di AS yang bangkrut,
terjadinya peningkatan pengangguran hingga dianggap berpengaruh terhadap
melemahnya nilai dollar sebagai mata uang internasional.
Hubungan Interdependensi Asimetris
AS dan China
Interdependenssi
sebenarnya merupakan turunan dari teori liberalisme yang terdapat dalam studi
hubungan internasional. Liberalisme mempunyai asumsi bahwa modernisasi akan
meningkatkan kadar interdependensi antar negara. Interependensi mengacu pada
situasi yang karakteristik, yakni dengan adanya efek resiprokal antar negara
yang berbeda. Efek ini seringkali merupakan hasil dari transaksi internasional,
yaitu barang/jasa, manusia, uang, dan informasi.[13] Hubungan ekonomi melalui perdagangan dapat
berubah dan perubahan tersebut dapat dipengaruhi interdependensi ekonomi. Dalam
hubungan AS dan China, interdependensi ekonomi belum cukup untuk
menggambarkan bagaimana keterikatan
kedua negara. China yang menempati posisi sebagai sumber impor terbesar dan
mitra dagang kedua terbesar bagi AS terkadang menimbulkan suatu
paradoksial.Pada satu sisi kedua negara berada pada kondisi yang
interdependensi, AS membutuhan China dan China membutuhkan AS. Disisi lain, AS
juga sering terlibat
konflik dengan China yang berbenturan dengan kepentingan kedua negara.
Berdasarkan hal ini, pola perdagangan yang terbentuk merupakan refleksitas dari
ekonomi-politik AS.Pola hubungan ini sendiri telah terbentuk sejak awal
pembentukan hubungan dagang. Bagi AS, perdagangan dengan China menjadi penting
karena secara ekonomi-politik AS akan mendapat beberapa keuntungan, terlebih
dengan terintegrasinya China kedalam komunitas internasional yang berarti China
harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku seperti di Worl TradeOrganization (WTO) meskipun AS memiliki ketergantungan
terhadap China.
Secara Eksplisit bagi AS, China
adalah mitra dagang yang sangat penting.Perbedaan ideologi dan politik mendalam
seringkali tidak berperan besar dalam menghambat perdaganagn AS dan China,
meskipun pada kenyataannnya memiliki ideologi yang berbeda dan perbedaan
pandangan terhadap isu-isu yang berhubungan dengan kepentingan kedua negara
serta seringkali memberi ketegangan dalam hubungan kedua negara. Namun,
perdagangan kedua negara tetap berada pada level yang baik terbukti dari adanya
peningkatan perdagangan.
Banyak
pernyatann dari para analisi yang melihat perdagangan dengan China dapat
merugikan AS akibat besarnya defisit perdagangan yang dialami oleh AS.Meskipun
begitu banyak klaim yang bertentangan mengenai pernyataan ini, perdagangan dan
investasi antara AS dan China telah memberikan keuntungan bagi kedua negara.
Bagi AS, peningkatan jumlah perdagangan dan investasi dengan China setelah
masuknya China ke dalam WTO diperkirakan meningkatkan GDP AS sebesar 0,7% pada
tahun 2010 dan harga-harga AS akan lebih murah 0,8%. Hal ini mengakibatkan
terjadinya peningkatan pendapatan bersih setelah pajak (disposable income) rata-rata $1,0000 per rumah tangga setiap tahun.
Selain itu, peningkatan perdagangan dan investasi juga membuat produsen AS
lebih kompetitif dengan membuat komponen yang berkualitas tinggi dengan harga
rendah dan mendorong mereka untuk meningkatkan produktivitas untuk bersaing di
panggung global.
Perdagangan sebagai Instrumen Pencapain Kepentingan
AS: ekonomi-politik dan upaya pengaruh yang ditimbulkan AS
Perdagangan
adalah hal yang kritis bagi pertumbuhan keamanan nasioanl AS.Keamanan nasional
bergantung pada keamanan ekonomi. Perdagangan akan menciptakan
kesempatan-kesempatan baru bagi AS dan mempertahankan kekuatan AS dalam
hubungan ekonomi, politik dan militer serta mencapai kepentingan-kepentingan
AS.
Perdagangan
telah menjadi akar penting bagi perekonomian AS.Dari perdagangan internasional
yang dilakukan AS dengan negara-negara di dunia, 30% merupakan perdagangan AS
di kawasan Asia Pasifik.Perdagangan AS dengan Asia Pasifik jauh lebih besar
dibandingkan total perdagangan AS ke Uni Eropa.Hal inilah yang membuat kawasan
Asia Pasifik telah menjadi kawasan yang sangat penting bagi keseluruhan aspek
kepentingan AS dalam jangka panjang.Selain itu, secara historis hubunagn AS
dengan negara-negara dikawasan Asia Pasifik memiliki dasar yang kuat untuk
memajukan perdagangan dan kepentingan ekonomi, dan mempromosikan nilai-nilai
liberal AS.[14]
Pada
dasar kebijakan AS terhadap Asia yang dirancang pada awal tahun 1970, bertumpu
pada empat pilar : pertama, membentuk aliansi dengan negara-negara demokrasi
regional yaitu U.S-Jepang Security Treaty
as the anchor; kedua,
keterlibatan dan kerjasama dengan China atas dasar rangkaian permasalahan
status Taiwan; ketiga, komitmen untuk
membuka pasar terutama melalui WTO dan APEC, dan keempat, kontak pendidikan dan imigrasi.
China sebagai Emerging Greentech Market
Teknologi
yang ramah lingkungan telah menjadi fokus pemerintahan China beberapa tahun
terakhir.Seiring dengan hal tersebut pemerintah telah membentuk produk dengan
teknologi tinggi yang ramah lingkungan. Perkembangan pasar Greentech China yang berkembang pesat menawarkan kesempatan
komersial yang luar biasa dan contoh yang bagus bagi perusahaan AS dan penyedia
pelayanan, dengan dukungan dari pemerintah AS, akan memiliki kesempatan untuk
memimpin.Pada tahun 2008, China mengumumkan paket 444 milyar dollar untuk renewable energy.Pada tahun 2020, China
berencana untuk menghasilkan 15% listrik dari energi terbarukan dan untuk
mengurangi intensitas energi sebesar 20%.[15]
Perdagangan
dengan China telah mencapai tujuan strategis AS yaitu memperluas kesempatan
bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mengekspor dan menjual ke China, bermain
pada tingkat kompetitif, dan mendorong reformasi ekonomi China yang
menggerakkan China dari model pertumbuhan orientasi ekspor dan subsidi yang
luas untuk pemerintah China. Peningkatan perdagangan dan investasi di China
akan menjadi stimulus bagi peningkatan perdagangan dengan negara-negara lain
dikawasan tersebut. Selain itu, terkait dengan dominaasi China di Asia Pasifik,
hubungan ini setidaknya akan memberikan pengaruh yang cukup positif terhadap
isu-isu dikawasan meskipun tidak jarang AS-China bersitegang terkait isu yang
bersinggungan terhadap kepentingan negara.
Kesimpulan
Perdagangan
merupakan pendorong utama bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara.Hal ini
dikarenakan perdagangan dapat memperluas kapasitas konsumsi dari suatu negara,
meningkatkan output dunia, dan menyediakan akses terhadap sumber daya yang
tidak dapat diproduksi oleh suatu negara.AS merupakan negara yang selama ini
dikenal sebagai hegemon dan negara yang ekonominya sangat terintegrasi dengan
perekonomian dunia.Integrasi ini menciptakan keuntungan sekaligus tantangan
bagi AS.
Bagi
AS, Asia Pasifik telah menjadi kawasan yang sangat penting bagi keseluruhan
aspek dari kepentingan AS dalam jangka panjang. Hal ini yang menjadi salah satu
alasan mengapa AS membuka hubungan dagang dengan China. Hubungan dagang AS dan
China dimulai ketika kedua negara mengumumkan hubungan diplomatiknya pada
januari 1979 dan menandatangani perjanjian dagang bilateral pada juli 1979,
serta memberlakukan MFN China (Most
FavoredNations) pada awal tahun 1980. Selain itu reformasi di China telah
membawa perubahan baru bagi negara tersebut.Deng Xiaoping dengan “Open Door Policy” nya secara perlahan
telah mengantarkan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat
didunia.Seiring dengan reformasi ekonomi yang dilakukan China, maka perdagangan
AS-China pun semakin mengalami perkembangan dan peningkatan volume perdagangan.
Defisit
perdagangan yang dialami oleh AS akibat hubungan dagang dengan China memang
cukup signifikan.Tahun 2005, AS juga mengalami defisit perdagangan yang cukup
besar mencapai 273 miliar dollar dan defisit ini merupakan defisit terbesar
sepanjang sejarah perdagangan dunia.Namun defisit perdagangan ini tidak hanya
dialami oleh AS dan China melainkan dengan negara-negara di dunia.
Dari
paparan diatas terlihat bahwa defisit perdagangan bilateral dengan China adalah
bagian dari kecenderungan global tidak secara khusus kepada China dan tidak
secara esensial diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan China yang
mendiskriminasi.Permasalahan mendasar yang menyebabkan defisit adalah pola
konsumsi dan menabung.Perbedaan pola ini juga yang akhirnya memancing
terjadinya krisis finansial tahun 2008.Oleh karena itu, solusi mendasar adalah
AS mengubah kebijakan makroekonominya sehingga AS dapat mengatasi permasalahn
defisit perdagangannya tidak hanya dengan China tetapi dengan negara-negara
lainnya.
Terkait
kepentingan ekonomi-politik AS, China bagi AS telah menjadi aset penting dalam
hubungan bilateral.China dengan perkembangan perekonomiannya yang pesat dapat
dikatakan telah memainkan peran pentinng di kawasan Asia Pasifik.Kawasan yang
menjadi kepentingan AS dalam jangak panjang.Bagi AS perdagangan dengan China
telah memberikan keuntungan dan peluang tersendiri.Dengan tetap melakukan
perdagangan dengan China, AS selalu berupaya untuk memberikan pengaruh
perubahan terhadap China.Pengaruh perubahan ini dapat dilihat dari pencapaian
strategis AS dimana China telah berkomitmen untuk meningkatkan perlindungan dan
penegakan hak kekayaan intelektual di AS; membuka sector baru bagi perusahaan
AS (yang memang telah berkembang sebelumnya di China) dan terapresianya secara
perlahan nilai yuan sebesar 40% sejak tahun 2005.
Bagi
AS, perdagangan dengan China telah memberikan bargaining dan influence terhadap
isu-isu bilateral. Perjalanhubungan AS dengan China tidak dapat dikatakan
berjalan baik mulus dikarenakan isu-isu sensitif yang mempengaruhi dinamika
hubungan kedua negara tetapi tingkat ketergantungan kedua negara telah
merefleksikan hububngan yang sangat penting.Bagi AS, China tidak hanya sekedar
mitra dagang dan aset penting.Hubungan ini telah berada pada bingkai strategis
dan menguntungkan AS telah membawa perubahan-perubahan terhadap isu-isu yang
menjadi konsentrasi kedua negara. Lebih lanjut, secara kalkulasi “biaya” yang
dikeluarkan akan lebih sedikit jika tetap berada pada kerangka “partnership” ketimbang harus berupaya
sendirian tehadap isu-isu yang ada. Sehingga hal-hal tersebutlah yang menjadi
alasan mengapa AS tetap melakukan perdagangannya dengan China.
DAFTAR PUSTAKA
Banyu, Anak Agung dan Yanyan Mochamad Yani. 2006. Pengantar Ilmu HubunganInternasional.
Bandung: Remaja Rosadakarya.
Balaam, David N. Dan Michael Veseth. 2005. Introduction to International PoliticEconomi
3rd Editions. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Devaland, Marry Jo. 2009. China’s Economic Policy Impact on the United States. Nova Science
Publishers Inc,
Gilpin, Robert. 1987. The
Political Economy of International Relations. New Jersey: Pricenton
University Press.
Herman, Yulius. P. 2007. Transformasi dalam Studi Hubungan Intenasional: Aktor, Isudan
Metodologi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Jackson, Robert dan Georg Sorensen, 1999. Introduction to International Relations.
New York: Oxford University Press Inc.
Jurnal
:
Dominicus, Supratikto, 2009,” Tinjauan Singkat Mengenai
FTA”, Jurnal Luar Negeri, Vol.26, No.2, Mei-Agustus
Todaro, Michael P. 2000. Trade Theory and Development experience. 7th edition. Harlow:
Pearson Education Limited.
Website :
www.amcham-sanghai.org
[1]Michael
P. Todaro, Trade Theory and Development
experience, dalam Economic Development 7th edition, (Harlow:Pearson
Education Limited, 2000), hlm. 474
[2]Robert
Jackson dan Georg Sorensen, Introduction
to International Relation,
New York, Oxford
University Press Inc, 1999, Hal.
228
[3]David
N Baalam and Michael Veseth, Introduction
to International Political Economi,New Jersey, Prentice Hall, 1997,Hal.
4
[4]Robert
Gilpin, The Political Economy of
International Relations, New Jersey,
Pricenton University Press, 1987,
[5]Yulius
P. Herman, Transformasi dalam Studi
Hubungan Internasional: Aktor, Isu, dan Metodologi, Yogyakarta, Graha Ilmu,
2007, Hal. 106
[6]Ibid, Hal. 107
[7]Dominicus
Supratikto,”Tinjauan Singkat Mengenai FTA”,
Jurnal Luar Negeri, Vol 26, No.2, Mei-Agustus 2009, Hal.62
[8]Ibid, Hal. 63
[9]http://library.upnvj.ac.id/pdf/4s1hubunganinternasional/207613002/BAB%20III.pdf Diakses pada 27 Desember
2015, Pukul
23.43
[10]Marry
Jo Devaland, China’s Economic Policy
Impact on the United States, Nova Science Publisher Inc, 2009, Hal 83-122
[11]http://m.kompasiana.com/noorkholis_ridho/krisis-ekonomi-amerika-serikat-pada-masa-pemerintahan-george-w-bush-dan-dampaknya-terhadap-perekonomian-global_55002d98813311001efa7270
[12]http://www.ustr.gov/about-us/press-office/fact-sheets/2011/january/us-china-economic-issues Diakses pada 29 Desember 2015, Pukul 21.00
WIB
[13]Anak
Agung Banyu & Yanyan Mochamad Yani, Pengantar
Ilmu Hubungan Internasioal, Bandung: Remaja Rosadakarya, 2006, Hal. 78
[14]http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/bisnis-global/15/09/04/nu43th317-defisit-perdagangan-amerika-serikat-terendah-dalam-lima-bulan
Diakses pada 31 Desember 2015, Pukul 20:41 WIB
[15]www.amcham-sanghai.org/.../us_export.pdf(october
2009), Diakses pada 30 Desember 2015
Komentar
Posting Komentar